Tulisan Ringan Muhammad Rijal

Pangalengan

September 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jam menunjukkan pukul 5 pagi, aku berjalan dari Masjid setelah melaksanakan shalat Subuh.  Tidak seperti hari biasa, aku tidak kembali tidur. Hari itu aku langsung mandi dan bersiap karena akan berangkat menuju Posko KORSA – PM KM ITB di kec. Pangalengan, Kab. Bandung. Pukul 5.20 aku sudah siap dengan Pulsar tercinta.

 

Udara dingin amat terasa walau hanya baru sampai jalan layang kiara condong. Tetapi, semua tertepis karena sepertinya otakku hanya terpusat pada sebuah pemandangan mengejutkan yang luar biasa cantik, matahari terbit. Tersadar bahwa arah motorku sudah diluar jalur, aku kembali fokus ke jalan.

 

Sampai di jl.Moch Toha, langit sudah mulai cerah. Aku melewati beberapa pabrik yang sudah mulai didatangi para buruh, penggerak utama industri. Jalanan jadi sedikit macet, tetapi tidak menyebabkan terhenti total. Aku meneruskan perjalanan menuju Banjaran. Saat itu jalan masih sepi, aku memacu mesin berbasis dts-i (dual twin spark ignition) motorku. Tak berapa lama, sampailah aku di Pasar Banjaran.

 

Seperti pasar lainnya, Pasar Banjaran juga amat ramai di pagi hari. Ini sempat menghambat perjalananku, apalagi banyak delman yang kudanya membuang sisa metabolisme padat sembarangan. Untungnya, saat itu masih pagi sehingga udara masih segar dan dingin. Untuk melewati pasar yang hanya sepanjang 20 meter itu, aku menghabiskan waktu 10 menit.

 

Banjaran sudah lewat, kemudian aku berbelok ke Jl. Pangalengan. Medan jalan mulai berubah, dari perkotaan menjadi pegunungan. Jalan meliuk dan naik turun aku lewati dengan cepat. Terbawa suasana jalan yang sepi, aku bergaya bak pembalap motoGP saat berbelok. Untungnya, aku tidak jatuh. Pemandangan yang terhampar begitu indah dan menarik membuatku melupakan semua masalahku di Bandung. Aku kemudian melihat ke arah penghitung kilometer di layar motorku, sudah menunjukkan angka 40km sejak aku berangkat tadi, tanda bahwa tujuanku sudah dekat. Tak lama, sampailah aku di SMP Pasundan Pangalengan yang dijadikan Posko KORSA – PM KM ITB. Saat itu jam menunjukkan pukul 6.25

 

Setelah memarkir motor, aku sejenak memanaskan tubuh yang memang sudah hampir membeku karena perjalanan yang sangat dingin sebelumnya. Belum semua darahku mencair, aku langsung membantu Babang dan Haekal membereskan terpal untuk tempat anak-anak nanti. Pukul 7 anak-anak sudah berdatangan. Anak SD langsung berlarian di lapangan yang dipenuhi lima tenda ukuran pleton itu, sedangkan anak SMP memilih mengobrol saja.

 

Kondisi sekolah itu mengenaskan. Dari luar memang terlihat seperti gedung biasa. Tapi, ternyata yang bagus hanya pintu dan lapangan saja. Semua kelas untuk SD rusak parah. Atap runtuh ke bawah sampai menghalangi jalan dari pintu. Semua kacau.

 

Pukul 7.30, saatnya menjalankan tugas pengondisian PSSA. Anak-anak dikumpulkan lalu kami senam pagi. Setelah itu, anak-anak dikelompokan berdasarkan kelas, 1-2, 3-4, dan 5-6. Mereka lalu masuk ke dalam tenda. Di dalam tenda, seharusnya mereka diajak bermain oleh relawan kami sampai sang guru datang. Tetapi, karena kurang banyaknya SDM dan rendahnya kompetensi beberapa di antara kami untuk mengatur anak kecil, akhirnya ada beberapa kelompok yang tidak jelas melakukan apa. Akhirnya guru turun tangan pada pukul 8.

 

Terlihat betul kualitas dan ketulusan seorang guru dalam membantu anak-anak itu tidak trauma. Mereka dapat membawa suasana keakraban dan keceriaan yang luar biasa, suasana yang dari tadi kami coba buat. Setelah bermain dan bernyanyi, anak-anak itu diberi kertas dan pensil warna. Mereka harus menggambar, tetapi tidak boleh menggambar gunung dengan sebuah jalan menuju gunung tersebut dan terletak matahari di atasnya seperti yang semua anak buat pada hari sebelumnya. Mereka harus membuat gambar benda yang menggambarkan dirinya, sebuah tugas yang sebenarnya cukup sulit untuk ukuran anak  SD.

 

-bersambung-

*capek, istirahat dulu

→ Tinggalkan KomentarKategori: Ceritaku
Ditandai:

Masa Depan Ku. Amin!

Juli 19, 2009 · & Komentar

Kemarin lalu (lupa tanggal berapa), ketika diklat calon taplok di kampus ITB dilakukan, saya diberi tugas untuk membuat mind map tentang masa depan. Jujur aja, saya sih langsung nulis yang emang udah saya rencanakan sejak lama. Mau tau bagaimana masa depan impian saya? Check it out!

Ini dibuat sesuai urutan waktunya.

1. Menuju Gelar Sarjana (S-1)

Jika orang lain selalu memasang target lulus tepat waktu (4 tahun) dengan IP di atas 3,7 atau 8 , saya malah memasang target lulus maksimal 5 tahun dengan IP minimal 3,25.  Kenapa? Kata orang memang pasanglah target setinggi langit, tetapi saya sendiri tampaknya sudah sadar akan kemampuan saya yang terlihat pada IP TPB yang hanya 3,00. Bukan IP yang jelek memang, tapi IP yang rendah jika saya mengincar cumlaude.  Kenapa 5 tahun? Karena saya ingin aktif di organisasi kampus dan saya pikir jika hanya 4 tahun itu akan sangat sulit, tetapi saya pasti akan mengusahakan 4 tahun juga. Siapa yang tak mau lulus cepat?

2. Kerja! Kerja! Kerja!

Inginnya sih dapet kerja sebelum wisuda, tapi kalau emang harus nyari setelah lulus juga nggak apa-apa lah. Ada dua tempat yang pengen banget saya kerja di sana, yaitu DEPLU dan Perusahaan Tambang. Pasti banyak yang bingung kan kenapa saya mau kerja di Deplu tapi malah masuk teknik. Karena saya ingin membangun citra Indonesia di mata internasional. Jujur aja, saya kesal juga kalau dengar ada fitnah-fitnah tentang Indonesia yang beredar di luar negeri sana. Selain saya juga ingin jalan-jalan ke luar negeri (pakai uang rakyat. Astagfirullah… harus diapus nih yang ini). Tetapi, nampaknya harapan itu hancur berkeping-keping beberapa saat yang lalu. Iseng-iseng buka situs deplu dan liat syarat CPNS-nya dan ternyata lulusan teknik yang bisa diterima cuma dari teknik informatika dong! Pupuslah harapan mulia memperbaiki citra negeri dan jalan-jalan. Tetapi, seperti yang saya sebutkan, saya juga ingin kerja di pertambangan. Mengapa? wah, kalau yang ini sih kayaknya nggak ada alasan jelas. Mungkin karena gajinya gede (saya butuh gaji gede buat modal, akan dijelaskan nanti) dan suka ada beasiswa S2-nya.

3. Menuju Gelar Post Graduate (S-2)

Ada beberapa syarat buat saya sendiri untuk mendapatkan gelar ini. Pertama, saya ingin kuliah di luar, kalau bisa di 10 universitas terbaik di dunia. Kedua, saya nggak mau bayar buat kuliah ini. Dengan kata lain, harus dapet beasiswa! Nah, untuk jurusannya saya prefer ke management. Kalaupun nantinya dapet yang bukan management ya okelah, tapi cuma mau Teknik Mesin. Dikerjakan secepatnya (1 tahun)

4. Kerja lagi! Modal! Modal!

Setelah menyelesaikan studi S-2 dengan memuaskan, biasanya langsung kerja karena ikatan dinas dari beasiswa. Selesaikan ikatan dinas itu dengan sepenuh hati biar bisa naik pangkat dan gajinya gede. Terus kalau udah terasa kekayaan saya cukup, maka saya akan keluar dari perusahaan tersebut. Kecuali, kalau saya kerja di Deplu.

5. Buka bengkel! Garap kebun dan peternakan!

Nah, sebenarnya inilah kehidupan masa depan yang saya impikan. Ya, ada tiga usaha kecil yang akan saya mulai dari awal setelah resign dari tempat bekerja sebelumnya. Bengkel, kebun, peternakan. Ya gausah dijelasin lah ya. Kalau kerja di Deplu saya akan tetap melaksanakan ide ini tapi hanya sebagai pengontrol.

6. Bengkel –> Perakitan –> Produksi MOBNAS!/MOTNAS! –> GO International | Kebun dan peternakan banyak

Nah, inilah yang disebut proyek Basith Company. Dimulai dari usaha kecil bengkel yang dimanage dengan baik lalu kemudian menjadi perusahaan perakitan dan mengkhianatinya dengan memproduksi produk sendiri. Dalam menjalani hal ini, maka usaha kebun dan peternakan pun harus berjalan lancar untuk keperluan modal.

7. BERHASIL, PENSIUN MUDA!

Setelah usaha poin 6 terealisasikan, maka saya akan mengambil pensiun muda. Toh, buat apa kerja kalau uang sudah mengalir deras. hahahaha. Akhirnya saya akan merambah dunia real estate dan persawahan. Setelah itu saya akan keliling Indonesia dulu lalu langsung keliling dunia, dimulai dari Eropa daratan. Sembari melakukan itu, saya juga berniat membangun sekolah berkualitas yang gratis dan rumah sakit. Masa tua pun saya isi bersama keluarga di suatu tempat yang tenang yang saya perkirakan bukan di pulau Jawa.

Itulah cita-cita saya yang saya gambarkan dalam mind map yang tidak sempat dipresentasikan. Semoga terkabul. Saya akan berusaha! Oia, untuk masalah keluarga (istri, anak, bla bla bla) tidak akan saya beberkan di sini. Hahahaha.

→ 2 CommentsKategori: Ceritaku
Ditandai:

Egoisme Bangsaku

Maret 31, 2009 · & Komentar

Kemarin, ketika sedang menyantap seporsi sate kambing di sebuah kedai sate dekat rumah, saya melihat sebuah acara berita di TVOne. Dalam berita itu, saya melihat sebuah berita yang mengkawatirkan tentang bencana Situ Gintung di daerah tanggerang selatan. Berita mengkawatirkan itu bukanlah berita tentang hancurnya rumah-rumah, atau banyaknya korban bencana, tetapi sesuatu yang lebih memalukan bagi bangsaku ini.

Seorang lelaki yang tinggal di daerah sana bercerita tentang aksi menyelamatkan diri dari bencana. Dia menceritakan betapa luar biasanya air menerjang rumahnya. Ketika dia sudah sampai di daratan, ternyata adik-adik, ayah dan keluarganya yang lain masih terhanyut-hanyut oleh air yang mengamuk menghancurkan bendungan yang hanya terbuat dari tanah itu. Di daratan itu, bukan hanya dirinya saja yang berdiri di sana, tetapi masih banyak orang lain yang berdiri di sana sebutnya. Tapi, hal yang sangat memilukan hati terjadi, apa yang dilakukan orang-orang di daratan sana ketika banyak orang hanyut meminta bantuan mereka??? Mereka hanya terdiam diri melihat mereka yang hanyut seolah tak peduli akan orang lain, yang penting dirinya selamat. Sang lelaki yang keluarganya masih terhanyut ini jelas saja sangat kesal pada orang-orang itu, kemudian dia memarahi mereka. Setelah itu, dia mendobrak sebuah rumah terdekat dan mengumpulkan benda yang bisa dibuat untuk menjadi tali. Akhirnya lelaki itu tetap kehilangan seorang adik dan seorang keponakannya.

Sudah dapat apa kejadian memilukan dan memalukan dari cerita di atas?? Ya, bangsa kita masih egois, bangsa kita masih mementingkan diri sendiri, yang penting saya selamat. Lalu, ke mana perginya pelajaran-pelajaran PPKn yang sudah diajarkan sejak SD? Saya masih ingat soal yang paling sering dikeluarkan saat ujian SD dan jawabannya adalah SALING TOLONG MENOLONG, atau MEMBANTU TEMAN YANG KESUSAHAN, dan lain lain. Seharusnya mental seperti ini sudah menjadi sebuah mental yang membudaya pada bangsa ini. Atau mungkin kita dapat mengambil dari sebuah ayat “Setelah menyelesaikan suatu hal maka segeralah melakukan hal lain”. Dalam konteks ini, setelah menyelamatkan diri, segeralah menyelamatkan orang lain. Mana aplikasinya? mana buktinya?

Hei Bung! Janganlah Anda menangis karena kehilangan sebuah rumah, janganlah Anda menangis karena kehilangan segenggam uang, janganlah Anda menangis karena kehilangan lembaran-lembaran dokumen, tetapi menangislah ketika Anda tak dapat menolong nyawa orang lain, menangislah ketika tetangga Anda tak terselamatkan karena Anda tak berbuat apa-apa, menangislah karena masih ada orang yang seolah tak peduli dengan teriakan-teriakan meminta tolong, MENANGISLAH KETIKA ANDA HANYA BISA TERDIAM!

→ 3 CommentsKategori: Bangsaku
Ditandai:

Kampanye = Hiburan Rakyat Gratis

Maret 19, 2009 · & Komentar

Mulai dari tanggal 16 Maret kemarin, masa kampanye bagi parpol telah dimulai. Semua parpol tentu sudah menyiapkan segala strategi untuk kampanye. Tapi, pertanyaannya adalah apakah mereka, baik parpol dan massa kampanye, sudah memahami apa fungsi dari kampanye? apa mereka paham mengapa mereka harus berkampanye? Saya akan membahas sedikit tentang kampanye dengan sedikit pengetahuan saya.

Kampanye adalah suatu acara yang hampir pasti ada dalam rangkaian acara Pemilihan Umum. Pada dasarnya, kampanye adalah sebuah cara untuk mengajak masyarakat untuk memilihnya sesuai dengan visi dan misi yang dipaparkan. Itu adalah tujuan sebenarnya kampanye.

Pada kenyataannya, kampanye hanya dijadikan sebagai acara hura-hura. Alasannya sih, untuk mengumpulkan massa. Tetapi tampaknya masyarakat sekarang sudah pintar. Dalam suatu kampanye di suatu daerah oleh sebuah partai H, massa memang sangat banyak ketika musik dangdut dilantunkan, tetapi ketika para caleg mulai memaparkan visi dan misinya, massa mulai membubarkan diri. Pada akhirnya, yang melihat sampai akhir acara hanyalah anak-anak yang notebene belum bisa memilih. Hal tersebut sungguh sangat mengkawatirkan. Entah kesalahan ada di mana, masyarakat membutuhkan hiburan dan bosan mendengar janji dari para caleg, dan parpol tidak mewajibkan “semua yang telah menonton dangdut harus mendengarkan visi misi caleg”. Yah, bisa dibilang semua salah. Masyarakat hanya bisa mengeluh dan caleg memang kurang terpercaya kualifikasinya.

Ada juga kejadian yang menurut saya sangat amat aneh, kampanye di depan massanya sendiri. Ini benar-benar pemborosan yang luar biasa. Mereka menggelar acara bak konser Peter Pan, dengan semangat menyanyikan lagu-lagu partai, menyampaikan pidato-pidato visi dan misi, tapi semunya di sampaikan kepada orang-orang yang sudah hampir pasti memilih mereka. Pada dasarnya, kampanye adalah mengajak orang dari yang tidak mau mencontreng mereka menjadi mau mencontreng mereka, seperti yang sudah saya jelaskan di awal. Apa fungsinya kalau mereka berkampanye di depan massanya? Akhirnya hal ini juga menambah daftar kesalahan fungsi kampanye.

Bisa dibilang, dalam masa krisis seperti ini, sebuah kampanye parpol akan menjadi hal yang paling diidamkan masyarakat. Mereka akan mendapatkan hiburan gratis yang dapat menghilangkan stres. Beberapa malah bisa mendapatkan kaos dan sembako murah malahan gratis. Semoga selain mendapatkan hiburan, masyarakat juga dapat mengenal caleg yang akan menjadi Anggota Dewan Yang Terhormat sekaligus akan menentukan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Dan juga, saya sangat berharap masyarakat tidak memilih untuk golput. Kalau kita tidak bisa mempercayai orang lain, bagaimana bangsa ini bisa maju? bagaimana mungkin hasil pemilu bisa merepresentasikan masyarakat? Seperti kata Coklat “5 menit untuk 5 tahun”

Menuju Indonesia Pusaka, Abadi, nan Jaya.

→ 2 CommentsKategori: Pemilu 2009
Ditandai: , , ,

USM, baik atau buruk??

Maret 18, 2009 · & Komentar

Menyambut masa-masa ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri selain lewat jalur SNMPTN, saya tertarik untuk membahas hal itu. OK, langsung saja kita mulai.

Diceritakan oleh kakak saya yang juga angkatan 2008 ITB lewat jalur USM, dia mengatakan pernah mendengar seorang senior yang meremehkan lulusan USM.  Lalu, saya pernah melihat tulisan di dunia maya yang menghubungkan peristiwa memalukan di ITB dengan USM. Saya, yang juga lulusan USM jujur saja merasa sangat amat tersinggung sekali. Mari kita kaji tentang USM, baik sisi positif dan negatif.

USM memang memerlukan modal uang yang cukup besar bagi peminatnya, tapi memangnya uang itu untuk siapa dan untuk apa? Yang saya dengar, uang itu ya untuk pengembangan ITB dan subsidi silang untuk yang masuk jalur SNMPTN. Jadi, sebenarnya kita melakukan simbiosis mutualisme. Peserta USM mendapat kursi dan peserta SNMPTN yang tak mampu membayar uang USM dapat melanjutkan studi.

Apa hubungannya USM dengan fisik, mental, dll dari mahasiswa. Memangnya ada tes fisik atau mental pada SNMPTN sehingga lulusan SNMPTN pasti memiliki mental dan fisik yang bagus? apakah di SNMPTN ada tes seperti mau masuk akmil? Pikiran-pikiran pendek seperti anak USM pasti kaya lalu orang kaya pasti manja lah yang membuat kita berpikir tak logis seperti itu.

Lulusan SNMPTN lebih pintar? untuk beberapa kasus, iya. Tapi tak semua lulusan SNMPTN pintar.

Porsi untuk jalur USM sudah terlalu besar dan uang masuknya pun sudah melebihi batas normal. Untuk porsi jalur USM yang besar, ini memang patut dipertanyakan. Mengapa porsinya sudah melebihi angka 50%, ini akan mengurangi kesempatan bagi calon mahasiswa yang kurang mampu tapi memiliki pikiran dan kemampuan luar biasa. Kemudian, uang minimumnya juga sudah keterlaluan. Memang tak apa-apa jika prakteknya dilakukan dengan baik, tapi menjadi masalah jika terjadi politik uang di sana.

Kesimpulan :

Janganlah kita berpikiran pendek dan goblok seperti pada contoh yang saya tulis di awal.

Sekian saja uraian menurut pandangan saya yang tidak terlalu luas ini. Jika ada yang mau menambahkan dan meberikan pendapat, akan saya terima dengan senang hati.

→ 3 CommentsKategori: unek unek
Ditandai: , ,

Antri, Budaya Indonesia?

Februari 28, 2009 · & Komentar

Kalau benar antri adalah budaya Indonesia, berarti memang benar Indonesia sedang dilanda globalisasi berlebih yang menyebabkan hilangnya kebudayaan dan akhirnya dicuri oleh negara-negara lain. Pasalnya, ketika saya sedang di negeri orang, belum pernah sekalipun saya melihat ada orang yang menyerobot antrian. Jadi, apakah sebenarnya antri adalah budaya Indonesia? Mari kita bandingkan pengalaman saya di London dengan di Bandung. Dua-duanya di KFC, kondisi saat itu sedang ramai.

 

London

Beberapa anak muda gaul masuk dan menyapa temannya yang sedang antri depan saya. Kemudian temannya itu dengan sopannya meminta izin pada saya agar mereka dibolehkan menyerobot antrian saya. Walaupun sudah saya beri izin ternyata mereka malah memilih untuk antri dari belakang dan akhirnya temannya itu juga ikut mereka

 

Bandung

Dua orang wanita dan satu pria yang berbeda antrian sedang mengobrol dengan seorang wanita yang antri di depan saya. Beberapa menit, ternyata antrian saya maju lebih cepat dari mereka. Walhasil, tiba-tiba mereka masuk dengan seenaknya dan tetap mengobrol, malah mereka tertawa tepat di depan hidung saya. Apalagi, mereka memesan makanan sangat lama. Memang luar biasa orang Indonesia, tidak ada rasa malu sedikit pun.

 

Jadi bagaimana? Apakah bangsaku ini sudah begitu bobroknya? kitalah yang harus bertindak, dengan cara paling mudah adalah kita kembalikan budaya antri, mulai dari sekarang

 

Untuk Indonesia Raya, Pusaka, Abadi, nan Jaya

→ 5 CommentsKategori: Bangsaku
Ditandai: , ,

Kembali Berpolitik? Kenapa tidak?

Februari 20, 2009 · & Komentar

Selama beberapa hari terakhir ini, aku disibukkan oleh kegiatan Divisi Tatacara Pemilu Raya KM ITB. Sebelumnya, aku juga adalah salah satu panitia pada acara Olimpiade V ITB. Mungkin hal ini yang menyebabkan aku mulai dipandang teman-teman sekelasku sebagai orang yang hebat. Aku mulai disebut-sebut sebagai salah satu calon pemimpin mereka nantinya , padahal itu masih sangat jauh, masih terlalu jauh.  Aku memang pada awalnya tidak berniat mengikuti perpolitikan di kampus, tapi kenapa sekarang aku malah mempertimbangkannya?

 

Latar belakang perpolitikanku memang cukup bagus, tapi tidak ada yang menghasilkan prestasi yang cukup memuaskan. Semua dimulai saat aku masih duduk di bangku SMP. Saat itu kakakku juga ada pada SMP yang sama dan dia adalah seorang pengurus OSIS. Yah, mungkin karena melihatnyalah yang membuatku tertarik terjun ke OSIS. Dengan keberanian yang luar biasa, pada tahun pertama aku mengajukan diri menjadi ketua 2, walaupun akhirnya tidak mempunyai suara untuk maju ke tahap selanjutnya dan akhirnya aku masuk ke bagian pendidikan. Saat itu, kakakku juga mencalonkan diri dan akhirnya menjadi ketua 3 pada pemilu. Aku menjalani tahun pertama kepengurusanku dengan cukup baik, menjalankan beberapa proker. Satu tahun berlalu dan aku kembali mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Dengan massa yang cukup banyak, aku berhasil memasuki tahap kampanye dan pemilu. Saat pemilu, suaraku kalah dari calon lain (yang semuanya adalah perempuan). Dengan kelapangan dada, aku mengakui dia memang hebat. Aku kemudian ditunjuk sebagai ketua 2. Tapi saat kepengurusan ini, aku sering lalai, bahkan beberapa kali ditegur. Aku kemudian menyesalinya.

 

SMA, aku memasuki suatu lingkungan yang benar-benar beda. Tidak ada yang kukenal dari sekian banyak murid baru karena memang aku pindah kota, dari Bekasi ke Bandung. Saat awal masuk, targetku hanya satu, mencari sebanyak-banyaknya teman. Kebetulan pada minggu kedua dibuka pendaftaran Organization Skill Training sebagai seleksi masuk Musyawarah Perwakilan Kelas. Aku berpikir ini adalah arena yang cocok, aku pasti mendapat banyak teman di sini. Di tengah-tengah acara kaderisasi yang luar biasa itu, tujuanku sudah bukan lagi sekadar mencari teman, tapi untuk bisa lolos seleksi. Dengan doktrin-doktrin positif yang diberikan, pandanganku mulai terbuka, di sinilah aku mendapat semangat untuk membangkitkan Indonesia. Akhirnya aku menjadi pengurus MPK sebagai anggota divisi Planning Organizer. Tahun pertama, aku sempat kecewa dengan MPK, kemudian aku menjadi tidak aktif sampai akhir kepengurusan. Pada tahun kedua, aku diangkat sebagai Ketua Divisi Planning Organizer. Sebuah amanah yang sangat berat dan besar, apalagi saat itu aku adalah murid kelas akselerasi yang artinya tahun itu adalah tahun terakhir aku di SMA. Tahun kedua kepengurusan kulalui dengan semangat merombak apa yang kualami pada tahun pertama. Aku tidak mau ada orang yang merasa tertipu masuk MPK. Mungkin masa-masa kepengurusan inilah yang membentukku seperti saat ini. Aku juga ditunjuk sebgai salah satu anggota Seksi Tata Tertib pada Latihan Kepemimpinan Siswa, padahal aku bukanlah alumni LKS. akhir kepengurusan kulalui dengan gagalnya beberapa proker.

 

Kuliah, aku menatapnya dengan pandangan untuk belajar, dapat IP bagus adalah cukup. Cukup bagiku untuk tidak berorganisasi. Tapi semua runtuh ketika aku merasa ada yang kurang, ada sesuatu yang aku tingalkan, ada sesuatu yang aku lupakan. Aku juga kecewa dengan kerja kabinet, kongres, dan himpunan yang benar-benar mendiamkan mahasiswa baru. Kemudian aku mencoba mendaftar saat diadakan Open Recruitment panitia Olimpiade, dan entah mengapa aku mengambil divisi nonpertandingan, suatu divisi yang luar biasa menyenangkan. Awalnya, aku memang malas-malasan karena aku cukup kecewa dengan beberapa kebijakan. Tapi kemudian aku sadar, aku tidak boleh kabur dari kenyataan, aku harus bisa melaluinya. Ya, bagiku hanya orang bodoh yang menyerah pada kenyataan. Aku kemudian mencoba berkontribusi lebih walaupun pada akhirnya aku kecewa pada diriku sendiri. Saat itu aku merasa aku sudah terlalu sombong karena merasa aku hebat dengan sederetan pengalaman saat SMA, semuanya runtuh dalam sekejap. Di olimpiade ini, aku sedikit tahu tentang kemahasiswaan. Aku juga tergabung pada Brigade 2008, tapi kebanyakan pikiranku bertentangan dengan orang-orang di sana. Sekarang aku menjadi panitia Pemilu Raya dan aku semakin tahu tentang kemahasiswaan. Aku jadi tahu kebobrokan aplikasi sistem yang sebenarnya sistem itu sudah luar biasa bagus.

 

Mungkin itulah penyebab utama mengapa aku ingin mengikuti perpolitikan di kampus ini, walaupun masih terlalu jauh untuk bisa menjadi orang besar di kampus yang menyimpan orang-orang hebat di dalamnya. Aku sadar aku bukan siapa-siapa, bahkan di angkatanku sendiri. Tapi aku yakin aku bisa lebih hebat dari mereka, aku bisa memimpin mereka, aku bisa dipercaya oleh mereka, aku bisa memperbaiki kampus ini, dan negara Indonesia ini.

 

untuk Tuhan, bangsa, dan almamater

→ 6 CommentsKategori: Kemahasiswaan
Ditandai: , ,

Halo Dunia!

Februari 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Apa yang harus kulakukan untuk mendapat kebahagiaan??

Aku sudah masuk ke Universitas yang kuinginkan

Aku sudah masuk ke Fakultas yang kuinginkan

Aku sudah mencapai IP yang tidak memalukan

 

Apa lagi yang harus kucari? apa lagi yang harus kudapatkan? apa lagi yang harus kuperbuat?

 

Akan kumulai dengan berkata “Halo Dunia!”

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized