Jam menunjukkan pukul 5 pagi, aku berjalan dari Masjid setelah melaksanakan shalat Subuh. Tidak seperti hari biasa, aku tidak kembali tidur. Hari itu aku langsung mandi dan bersiap karena akan berangkat menuju Posko KORSA – PM KM ITB di kec. Pangalengan, Kab. Bandung. Pukul 5.20 aku sudah siap dengan Pulsar tercinta.
Udara dingin amat terasa walau hanya baru sampai jalan layang kiara condong. Tetapi, semua tertepis karena sepertinya otakku hanya terpusat pada sebuah pemandangan mengejutkan yang luar biasa cantik, matahari terbit. Tersadar bahwa arah motorku sudah diluar jalur, aku kembali fokus ke jalan.
Sampai di jl.Moch Toha, langit sudah mulai cerah. Aku melewati beberapa pabrik yang sudah mulai didatangi para buruh, penggerak utama industri. Jalanan jadi sedikit macet, tetapi tidak menyebabkan terhenti total. Aku meneruskan perjalanan menuju Banjaran. Saat itu jalan masih sepi, aku memacu mesin berbasis dts-i (dual twin spark ignition) motorku. Tak berapa lama, sampailah aku di Pasar Banjaran.
Seperti pasar lainnya, Pasar Banjaran juga amat ramai di pagi hari. Ini sempat menghambat perjalananku, apalagi banyak delman yang kudanya membuang sisa metabolisme padat sembarangan. Untungnya, saat itu masih pagi sehingga udara masih segar dan dingin. Untuk melewati pasar yang hanya sepanjang 20 meter itu, aku menghabiskan waktu 10 menit.
Banjaran sudah lewat, kemudian aku berbelok ke Jl. Pangalengan. Medan jalan mulai berubah, dari perkotaan menjadi pegunungan. Jalan meliuk dan naik turun aku lewati dengan cepat. Terbawa suasana jalan yang sepi, aku bergaya bak pembalap motoGP saat berbelok. Untungnya, aku tidak jatuh. Pemandangan yang terhampar begitu indah dan menarik membuatku melupakan semua masalahku di Bandung. Aku kemudian melihat ke arah penghitung kilometer di layar motorku, sudah menunjukkan angka 40km sejak aku berangkat tadi, tanda bahwa tujuanku sudah dekat. Tak lama, sampailah aku di SMP Pasundan Pangalengan yang dijadikan Posko KORSA – PM KM ITB. Saat itu jam menunjukkan pukul 6.25
Setelah memarkir motor, aku sejenak memanaskan tubuh yang memang sudah hampir membeku karena perjalanan yang sangat dingin sebelumnya. Belum semua darahku mencair, aku langsung membantu Babang dan Haekal membereskan terpal untuk tempat anak-anak nanti. Pukul 7 anak-anak sudah berdatangan. Anak SD langsung berlarian di lapangan yang dipenuhi lima tenda ukuran pleton itu, sedangkan anak SMP memilih mengobrol saja.
Kondisi sekolah itu mengenaskan. Dari luar memang terlihat seperti gedung biasa. Tapi, ternyata yang bagus hanya pintu dan lapangan saja. Semua kelas untuk SD rusak parah. Atap runtuh ke bawah sampai menghalangi jalan dari pintu. Semua kacau.
Pukul 7.30, saatnya menjalankan tugas pengondisian PSSA. Anak-anak dikumpulkan lalu kami senam pagi. Setelah itu, anak-anak dikelompokan berdasarkan kelas, 1-2, 3-4, dan 5-6. Mereka lalu masuk ke dalam tenda. Di dalam tenda, seharusnya mereka diajak bermain oleh relawan kami sampai sang guru datang. Tetapi, karena kurang banyaknya SDM dan rendahnya kompetensi beberapa di antara kami untuk mengatur anak kecil, akhirnya ada beberapa kelompok yang tidak jelas melakukan apa. Akhirnya guru turun tangan pada pukul 8.
Terlihat betul kualitas dan ketulusan seorang guru dalam membantu anak-anak itu tidak trauma. Mereka dapat membawa suasana keakraban dan keceriaan yang luar biasa, suasana yang dari tadi kami coba buat. Setelah bermain dan bernyanyi, anak-anak itu diberi kertas dan pensil warna. Mereka harus menggambar, tetapi tidak boleh menggambar gunung dengan sebuah jalan menuju gunung tersebut dan terletak matahari di atasnya seperti yang semua anak buat pada hari sebelumnya. Mereka harus membuat gambar benda yang menggambarkan dirinya, sebuah tugas yang sebenarnya cukup sulit untuk ukuran anak SD.
-bersambung-
*capek, istirahat dulu