Hallo semua! Apa kabar? semoga kabar baik selalu bersama Anda.
Beberapa saat yang lalu, saya membaca sebuah artikel di kompas. Artikel itu berjudul “Gelombang Korea” Menerjang Dunia. Hal ini cukup menggelitik saya untuk membuat sebuah tulisan berisi komentar saya. Sebelumnya, saya tekankan bahwa saya juga seorang penggemar berat Korea, grup favorit saya SNSD, dan saya sangat suka menonton Running Man
Sebagai salah seorang veteran penggemar K-Pop (sejak awal 2009), saya merasakan dua hal yang bertolak belakang dalam menanggapi wabah K-Pop yang sudah seperti virus zombie di Indonesia ini. Di satu sisi, saya senang karena kini semakin sedikit yang suka menyindir saat saya menonton klip-klip korea. Selain itu, akses untuk mendapatkan klip yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris pun semakin luas karena teman-teman saya banyak yang mengunduhnya. Tapi, di sisi lain saya agak miris. Demam ini sudah berlebihan. Demam K-Pop ini bahkan sudah terlihat menyebalkan dan mengganggu layaknya melihat alay-alay yang dulu bertebaran. Alasannya? Bagi saya alasannya satu, mereka berlebihan.
Menurut pepatah, semua hal yang berlebihan itu buruk. Oke saya suka K-Pop. Saya fans berat SNSD. Saya juga fans Soyeon (T-Ara) dan Hyorin (SISTAR). Saya juga sangat sering menonton variety show layaknya Running Man, Strong Heart, dan Invincible Youth. K-Drama? Saya ikuti mulai dari Beethoven Virus, Secret Garden, Dream High, God of Study sampai yang terakhir Man of Honor. Orang bilang saya freak. Tapi setidaknya kuliah saya masih bener (kalau bolos pun bukan karena nonton korea-koreaan), saya juga tidak fanatik seperti layaknya fans-fans norak dan kampungan yang marah-marah sendiri ketika gosip Taecyeon dan Jessica beredar. Lebih parah lagi, bahkan di Indonesia ini banyak yang menjiplak setengah-setengah konsep boyband/girlband yang memang menjadi ujung tombak K-Pop. Saya akan mengkaji satu per satu, mulai dari kenapa K-Pop bisa sebegitu meledak, apa yang salah dari Indonesia, sampai apa yang sebaiknya dilakukan Indonesia menurut persepsi saya.
Sorry Sorry Dance
K-Pop, atau Korean Pop, adalah sebuah genre musik baru yang berasal dari Korea. K-Pop memiliki suatu keunikan dibandingkan dengan musik-musik pop lainnya. Mengandalkan suara-suara electronic dengan beat cepat dan kuat adalah ciri khas yang saya rasakan. Mungkin karena salah satu dasar dari K-Pop adalah break dance yang memang Korea sudah diakui dunia sebagai salah satu yang terbaik. Maka bisa kita lihat hampir semua penyanyi korea mempunyai koreografi khas di tiap lagunya. Inilah yang membuat K-Pop unik dan bisa mendapatkan tempat di hati penggemarnya (penggemar yang bener *Penggemar Aspal adalah penggemar yang cuma suka tampang dan badan). Gelombang Korea (Hallyu) sebenarnya bukan hanya terjadi di sektor musik dan drama. Justru gelombang hallyu pertama dibuka di sektor teknologi. Lihatlah di sekeliling Anda, pengguna mobil Hyundai sudah cukup banyak sejak dulu. Coba cek barang elektronik Anda, apakah ada TV, mesin cuci, laptop, AC, atau lainnya yang bermerek Samsung? atau LG? Itulah karya-karya bangsa Korea selain musik. Gabungan serangan musik, elektronik, otomotif, dan lainnya yang saling mendukung inilah yang membuat gelombang wabah Korea sangat kuat.

Samsung, penyokong gelombang Korea
Indonesia seharusnya bisa mendahului Korea, ini yang sering saya pikirkan. Kita punya Astra yang berdiri jauh lebih dulu dari Hyundai. Kita punya PT. DI (dulu IPTN) yang mana pesawatnya dibeli oleh Korea pada tahun lalu. Kita punya Krakatau Steel yang merupakan tonggak industri, sama seperti Korea. Bedanya? KS tidak maju, Astra terbuai “hanya” menjadi perakit, dan PT.DI dijegal barat. Akhirnya kita tidak punya kebanggaan yang menjalar ke budaya. Anak muda yang hampir semua barangnya buatan asing pun ikut terbuai dalam alunan musik pop barat. Akhirnya anak muda hanya ikut-ikutan tren, tidak bisa menjadi trend-setter karena memang tidak punya jati diri. Buktinya? Lihat saja nilai UAN anak SMP dan SMA, hampir tidak ada yang mendapat nilai 100 di mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Astra, berdiri 1957, masih menjadi perakit
Hyundai, berdiri 1967, salah satu produsen besar otomotif
Ketika arus musik barat menjalar di Indonesia dengan ujung tombak berformat band-band pada tahun 80-an sampai 90-an, band-band di Indonesia bermunculan. Puncaknya terjadi pada tahun 2000-an dimana hampir setiap minggu ada band baru. Mulai dari nama panca indera, warna, sampai istilah-istilah aneh dipakai sebagai identitas band. Sekarang, K-Pop menyerang dengan ujung tombak berformat group (Boy/Girl/Coed), maka latahlah kita menirunya. Sayang seribu sayang, menirunya pun setengah-setengah. Yang ditiru hanyalah formatnya, sedangkan masa pelatihan yang menyakitkan dan menyengsarakan tidak ditiru. Bagi penggemar K-Pop tentu tau berapa lama Jessica dari SNSD menjalani masa pelatihannya sebelum debut, sekitar 7 tahun. Kita juga tahu bagaimana seorang leader project group akhirnya keluar dari group itu sebulan sebelum debut. Bahkan leader penggantinya pun sempat kabur dari karantina karena tidak kuat. Tapi hasilnya? Satu grup minimal punya main vocalist bersuara luar biasa, main dancer yang tak kalah luar biasa, dan personel lain dengan ciri khas kekuatannya masing-masing yang tidak setengah-setengah. Bandingkan dengan Indonesia yang karbitan. Memang ada yang bilang mereka juga dikarantina, tapi saya tidak yakin melebihi 6 bulan melihat cepatnya kemunculan grup-grup latah itu. Dance tidak kompak dan lipsync seolah menjadi biasa bagi mereka. Malu saya, MALU.
Saya tidak mau hanya dianggap “lempar isu sembunyi tangan”. Oleh karena itu, saya ingin memberikan beberapa pandangan berupa masukan. Pertama, kalaupun memang ingin membuat suatu group, tolong lah dilatih dulu vokal dan dance, minimal 6 bulan saja sehingga ketika perform tak perlu lagi lipsync. Saya akui memang sangat berat dance sekaigus bernyanyi karena napas akan lebih terengah-engah, tapi itu adalah jalan yang kalian pilih. Kedua, kalau jadi fans, tidak usah terlalu fanatik. Ketiga, jangan sampai demam K-Pop mengganggu kuliah dan kinerja Anda.
Terakhir dan yang paling penting, mari kita tiru juga etos kerja masyarakat Korea. Mari kita bangkitkan karya dalam negeri. Akhir-akhir ini kita sudah mulai dibanggakan oleh mobil Kiat Esemka. Sebelumnya sudah ada Fin Komodo dan industri motor Kanzen. Yang menunggu penjualan adalah Gea dan Tawon. Ada juga industri lama seperti sepatu Cibaduyut dan jaket kulit Garut. Ayo kita bangkitkan tonggak industri kita, yaitu Krakatau Steel. Industri teknologi tingkat tinggi kita di PT DI dan Pindad. Jangan lupa, kita pelajari budaya Indonesia. Walaupun saya penggemar berat Korea, saya tetap suka mempelajari sejarah Indonesia, sastra Indonesia seperti I La Galigo, Azab dan Sengsara, dan Harimau Harimau. Nilai bahasa Indonesia saya ketika sekolah sangat bisa dibanggakan. Karena saya selalu percaya, seperti yang sering saya gaungkan, belajar budaya dan bahasa apa pun tidak salah, asal kacang jangan lupa kulitnya. Justru saya senang dengan fans yang belajar bahasa korea dibandingkan fans yang hanya menonton saja. Karena bahasa adalah senjata yang paling berbahaya.
Salah satu trigger pembangkit kebanggaan nasional